Langsung ke konten utama

About Me

Sayuti
Tinggal di Lhokseumawe
Alumni Institut Agama Islam Almuslim Aceh
Prodi Pendidikan Agama Islam 
sedang menempuh pendidikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry
Darussalam Banda Aceh

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Juhaimi Bakri: Perwira Abstrak

Perwira Abstrak Juhaimi Bakri. Seorang perwira di bidang wawasan. Banyak hal yang ia ketahui, menyentuh di segala lini. Jika masalah tokoh dan sejarah, aku mengangkat dua tangan. Pengetahuannya tentang masalah terkini, aku banyak tahu darinya. Ia piawai dalam mengangkat kesan-kesan yang tersirat dalam suatu pernyataan atau kejadian. Aku memberi tabi’ penghormatan kepada orang tua ini. Semangatnya untuk belajar tidak bisa dipandang sebelah mata. Melebihi semangat anak muda. Setiap makalah diberi catatan. Setiap topik diangkat makna intinya. Setiap ketegangan di-fleksibelkan. Banyak buku yang dibaca dan mungkin masih ada banyak hal yang belum diceritakannya. Berangkat dari statement-nya, “Mengapa kita tidak menjadi hamzah fansuri?”. “Seharusnya kita tidak hanya menganut tasawuf al-Ghazali?”, penjelasan-penjelasan seperti ini yang membuatku terpana. Setiap kata-kata yang dikeluarkannya terasa enak didengar. Bahkan saat aku merasa sangat kantuk. Banyak adat dan budaya ya...

Berbeda Untuk Bersama

Cinta, meniadakan dan mengadakanmu . .  Dengannya kamu akan berharap. . Betapa indahnya bila kita mampu memilikinya . . Segala perbedaan akan menjadi jalan keindahannya, , Bahkan, Sekalipun perasaan tulusmu tak diterima, , Itu akan menyedihkan untuk beberapa saat, Namun kemudian, Keindahan hikmahnya akan menghiasi jalan ceritamu , , Bermimpilah, Meski itu tidak mungkin, Karena kekuasaan bukan terletak di tanganmu, Melainkan Dia yang Maha segalanya . .

Merenungi

Petuah orang tua sering kita dengar, janganlah menyakiti hati insan, karena itu sulit disembuhkan. Bila tubuh tergambar luka, tentulah ia dapat diobati. Namun, bila hati tersayat luka, ke mana obat hendak dicari. Jadilah intisari petuah itu sebagai rambu-rambu yang fundamental, dalam hidup kita sebagai manusia, yang hiruk pikuk dalam bertegur sapa. Nyatalah manusia itu, nihil dari kesempurnaan. Tentulah ia ada silap dan salah. Adakala itu menjadi niat dan maksud, adakala pula benar-benar tak disengaja. Jika benar ia bermaksud menyakiti hati orang lain, tentulah itu perbuatan jahat. Karena silapnya itu adalah satu pilihan yang sadar. Dan jika ia tersilap dengan tiada sadar, apatah ia jadi perbuatan jahat?. Maka jawaban dari itu, tetap jahatlah ia. Meski jahatnya itu karena tiada ia sadari. Karena itu, Allah beri potensi berfikir dan merenung. Allah beri pula waktu lapang dan sunyi. Di mana ketika waktu itu datang, hendaklah kita suka merenung. Apa yang telah kita lakukan?. Ap...