Mari kita bedah dengan akal yang jernih dan hati yang tenang. Dalam bahasa manusia yang paling bersahaja, bersyukur itu sebenarnya adalah urusan berterima kasih. Sebuah respons logis untuk menghargai, menghormati, dan memberikan pengakuan atas ketulusan yang disodorkan oleh sang Pemberi kebaikan. Secara fitrah moral, ditinjau dari sudut kemanusiaan maupun bangunan kebudayaan, menolak untuk mengapresiasi kebaikan orang lain adalah sebuah keganjilan yang sangat absurd. Ia tidak masuk dalam hitungan akal sehat, juga tidak mendapat tempat dalam kepekaan rasa. Dalam spektrum kehidupan yang bagaimanapun, entah itu di lingkaran orang-orang saleh atau bahkan di dalam labirin dunia kejahatan sekalipun, hukum timbal balik ini merupakan suatu keniscayaan yang wajib ditunaikan. Mari kita tengok potret di sekitar kita. Ada seorang guru yang selalu tahu cara menyenangkan hati kepala sekolahnya, maka secara alamiah posisinya akan menjadi lebih disayang. Kecenderungan rasa sayang yang diperlih...
Sepotong tubuh tersibak kaku, mematung di tepi pantai. Wajahnya kaku, tegang. Menahan nafas pilu berkali-kali. Pohon matanya memerah, bekas elusan sapu tangan. Airmata itu terus jatuh, membanjiri pipi. Dadanya sesak. Menanggung beban rindu yang mendalam. Menunggu seseorang yang entah kapan akan kembali. Lewat dermaga ini. Sudah ratusan petang berlalu menemani penantian panjangnya. Menjadi saksi wajah frustasi itu. Namun karin tak berputus asa. Yakin bahwa laki-laki itu pasti akan tiba, menyambut tangannya, meruntuhkan segunung rindu yang menjulang tinggi. Meskipun karin tak tau persis, kapan laki-laki itu akan benar-benar kembali. Alun-alun senja beberapa saat lagi akan berakhir. Karin menunduk, meletakkan jeda dari penantian yang mungkin masih begitu panjang. Jemarinya gugup, membuka lembaran buku di tangannya. Terselip banyak surat-surat dalam lembaran buku itu. “kembalilah.” Rintih hatinya. ***** “Kau liha...