Langsung ke konten utama

Postingan

Bersyukur

  Mari kita bedah dengan akal yang jernih dan hati yang tenang. Dalam bahasa manusia yang paling bersahaja, bersyukur itu sebenarnya adalah urusan berterima kasih. Sebuah respons logis untuk menghargai, menghormati, dan memberikan pengakuan atas ketulusan yang disodorkan oleh sang Pemberi kebaikan. Secara fitrah moral, ditinjau dari sudut kemanusiaan maupun bangunan kebudayaan, menolak untuk mengapresiasi kebaikan orang lain adalah sebuah keganjilan yang sangat absurd. Ia tidak masuk dalam hitungan akal sehat, juga tidak mendapat tempat dalam kepekaan rasa. Dalam spektrum kehidupan yang bagaimanapun, entah itu di lingkaran orang-orang saleh atau bahkan di dalam labirin dunia kejahatan sekalipun, hukum timbal balik ini merupakan suatu keniscayaan yang wajib ditunaikan. Mari kita tengok potret di sekitar kita. Ada seorang guru yang selalu tahu cara menyenangkan hati kepala sekolahnya, maka secara alamiah posisinya akan menjadi lebih disayang. Kecenderungan rasa sayang yang diperlih...
Postingan terbaru

Menanti "Bersama Ribuan Senja"

    Sepotong tubuh tersibak kaku, mematung di tepi pantai. Wajahnya kaku, tegang. Menahan nafas pilu berkali-kali. Pohon matanya memerah, bekas elusan sapu tangan. Airmata itu terus jatuh, membanjiri pipi. Dadanya sesak. Menanggung beban rindu yang mendalam. Menunggu seseorang yang entah kapan akan kembali. Lewat dermaga ini. Sudah ratusan petang berlalu menemani penantian panjangnya. Menjadi saksi wajah frustasi itu. Namun karin tak berputus asa. Yakin bahwa laki-laki itu pasti akan tiba, menyambut tangannya, meruntuhkan segunung rindu yang menjulang tinggi. Meskipun karin tak tau persis, kapan laki-laki itu akan benar-benar kembali. Alun-alun senja beberapa saat lagi akan berakhir. Karin menunduk, meletakkan jeda dari penantian yang mungkin masih begitu panjang. Jemarinya gugup, membuka lembaran buku di tangannya. Terselip banyak surat-surat dalam lembaran buku itu. “kembalilah.” Rintih hatinya. ***** “Kau liha...

Surat Cinta yang Tak Terserah

Assalamualaikum wa Rahmatullah wa Barakatuh Atas permintaan puan, meminta saya supaya berkenan menulis sepucuk surat cinta yang nantinya menjadi ubat untuk dikenang, maka berlakulah jari-jemari saya menulis beberapa madah, kata-kata asmara. Hendaknya menjadi pelipur lara bilamana sampai kesedihan itu merajai hati, menerbitkan pucuk-pucuk rindu baru, usai dipetik ia sebagai obat. Tertanda permintaan puan itu, di tanggal 7 agustus 2018. Sungguh tak pandai saya merangkai kata-kata. Tak seperti Zainuddin, sang pemuda dari Mengkasar. Namun saya paham akan dalam rasa cintanya kepada Hayati. Seperti kata para pendahulu, “tak lapuk karena hujan, tak lekang oleh panas”. Begitulah perasaan cinta saya kepada puan. Meskipun hebatnya perasaan saya yang membara itu, namun jua kelu lidah saya bila bersahut sapa dengan puan. Kata-kata itu tersendat begitu saja di pangkal marih saja. Mati rasa pita suara saya. Puan, sebenarnya saya tidak tau harus menyampaikan apa. Warna-warna di dalam hat...

Jeumeurang ("Yang Dilepas")

Gurat-gurat senyum, tergambar di wajah mereka Tidak sebenarnya, hanya tampias saja Sesuatu merundung Apatah! Melambai-melambai, ramai telapak tangan itu Berikut jari-jemarinya yang menjunjung Melepas kepergian “Selamat tinggal, ku lepas engkau dibawa angin dermaga” Sahut-sahut mereka begitu Hatinya pilu Bunyi mesin kapal menderu Seperti ikut dirundung Karena sebab ia Reruntuhan airmata ayah dan ibu bertebaran Para sanak saudara pula Dihempas pecah disibak pantai Nun jauh ke seberang daratan “Yang dilepas” akan mematuk rezeki Di tanah sendiri memang padi menguning Tapi mulut mereka dikunci Dilarang menyuap nasi ke mulut sendiri Di daratan ini Pendidikannya hanya mengaji Kitab-kitab bahkan sudah lusuh Tak terhitung berapa kali lembar-lembar itu dibolak-balik Tetapi dia pikir “Pendidikanku tak cukup hanya mengaji” Sebab di televisi, punya kedai kopi Sebuah pesawat antariksa dilepas ke ruang angkasa Robot-robot berg...