Mari kita bedah dengan akal yang jernih dan hati yang tenang. Dalam bahasa manusia yang paling bersahaja, bersyukur itu sebenarnya adalah urusan berterima kasih. Sebuah respons logis untuk menghargai, menghormati, dan memberikan pengakuan atas ketulusan yang disodorkan oleh sang Pemberi kebaikan. Secara fitrah moral, ditinjau dari sudut kemanusiaan maupun bangunan kebudayaan, menolak untuk mengapresiasi kebaikan orang lain adalah sebuah keganjilan yang sangat absurd. Ia tidak masuk dalam hitungan akal sehat, juga tidak mendapat tempat dalam kepekaan rasa. Dalam spektrum kehidupan yang bagaimanapun, entah itu di lingkaran orang-orang saleh atau bahkan di dalam labirin dunia kejahatan sekalipun, hukum timbal balik ini merupakan suatu keniscayaan yang wajib ditunaikan.
Mari kita tengok potret di sekitar kita. Ada seorang guru
yang selalu tahu cara menyenangkan hati kepala sekolahnya, maka secara alamiah
posisinya akan menjadi lebih disayang. Kecenderungan rasa sayang yang
diperlihatkan oleh kepala sekolah kepada guru yang pandai menyenangkan hatinya
itu, pada hakikatnya, merupakan salah satu bentuk konkret dari apa yang kita
sebut sebagai sikap syukur. Atau, lihatlah contoh lain yang lebih pekat:
seorang bupati yang di masa jabatannya pernah mengerahkan daya upaya untuk menolong
sanak familinya agar bisa lolos menjadi aparatur sipil negara. Begitu masa
jabatan sang bupati berakhir dan ia kembali menjadi warga biasa, maka
orang-orang yang pernah ditolongnya pasti akan menaruh sikap prioritas untuk
memasang badan dan membantu sang mantan bupati jika sewaktu-waktu ia
membutuhkan pertolongan. Bahkan, sekalipun dalam perjalanannya mereka harus
menabrak barikade norma dan tata nilai, semua itu tetap nekat dilakukan demi
satu tujuan: sebagai ungkapan wujud syukur.
Kalau kita lacak secara asal-usul kata dalam bahasa Arab,
kata syukur itu memiliki akar makna "membuka" atau menampakkan ke
permukaan. Oleh sebab itu, tidak sah seseorang disebut telah bersyukur jika ia
belum menampakkan gelombang rasa terima kasihnya itu melalui pelbagai tindakan
yang nyata dan konkret, meskipun untuk urusan itu ia sering kali harus
mengorbankan banyak hal dari dirinya. Dalam rajutan hubungan antarmakusia,
agaknya terminologi syukur ini memiliki kedekatan rasa dengan istilah utang
budi atau balas budi. Maka, jika getaran terima kasih itu hanya dibiarkan
mandek dan cuma terbersit di dalam ruang gelap hati saja, yang demikian itu
belum berhak dinamakan sebagai bersyukur. Mengapa? Karena bersyukur adalah
sebuah kesatuan gerak yang utuh antara ketulusan hati, ucapan lisan, dan
pembuktian tindakan. Begitu salah satu elemen penting ini tertinggal atau
sengaja diabaikan, maka ia gugur dan tidak bisa lagi dinilai sebagai perilaku
bersyukur.
Anehnya, dalam panggung interaksi sosial sehari-hari, kita
justru sangat sering menyaksikan drama ketidakbersyukuran. Ada manusia yang
sudah berulang kali ditolong dan diberi kebaikan, namun ia sama sekali tidak
mengakui kebaikan tersebut, apalagi berpikir untuk membalasnya. Secara
psikologis, kepedihan ini meletup karena hilangnya radar kesadaran pada diri si
penerima manfaat terhadap ketulusan dan pengorbanan yang telah diperas oleh si
pemberi kebaikan dalam usahanya mengulurkan pertolongan. Macetnya rasa terima
kasih ini bisa lahir dari matinya kepekaan hati, atau memang karena manusia
tersebut memelihara watak yang culas dan hanya mau menang sendiri. Manusia
model begini adalah tipe makhluk yang kehilangan fungsi hati atau barangkali
otaknya. Akal sehat dan mata batinnya telah terkunci rapat, atau mungkin
dorongan nafsu kebinatangannya sudah terlanjur mendominasi seluruh perilakunya.
Pola watak yang tidak tahu diri inilah yang kerap kali memicu konflik berdarah
dan benturan tajam antara si pemberi kebaikan dengan si penerima kebaikan.
Sekarang, mari kita tarik kesadaran ini ke ruang yang jauh
lebih luas dan mendalam. Siapakah Zat yang paling royal membanjiri manusia
dengan kebaikan? Jawabannya tidak lain adalah Allah SWT. Coba renungkan hal-hal
terdekat yang melekat pada eksistensi kita: embusan napas, ketukan detak
jantung, hingga miliaran sistem biologi tubuh yang berjalan dengan sangat rumit
namun luar biasa otomatis. Kita tidak pernah dipusingkan untuk memilah sendiri
zat gizi dari makanan yang masuk ke mulut, kita tidak perlu terjaga sepanjang
malam hanya untuk mengontrol agar jantung tidak berhenti memompa darah, dan
kita juga tidak pernah repot memimpin pembagian aliran darah ke seluruh
pembuluh tubuh. Urusan-urusan yang sangat vital bagi hidup kita itu sama sekali
tidak kita kelola sendiri, melainkan telah diambil alih dan diurus rapi oleh
Zat yang telah menciptakan kita.
Mestinya, pada perkara-perkara yang berjarak sangat dekat
dengan eksistensi diri kita sendiri itulah, kita harus melipatgandakan
frekuensi bersyukur. Namun ironisnya, kesadaran kita tentang nikmat-nikmat yang
memerlukan perenungan batin mendalam itu sering kali lenyap begitu saja.
Sebagian manusia mungkin terlanjur menelan mentah-mentah keyakinan bahwa
dirinya hanyalah produk dari rantai panjang evolusi makhluk hidup, sehingga
segala keajaiban tubuh yang berjalan otomatis itu tidak lagi dipandang sebagai
sebuah anugerah agung dari sang Pencipta. Atau jangan-jangan, hati kita sudah
menjadi bebal dan mati rasa akibat terlalu kenyang menikmati fasilitas hidup, lalu
dengan sombongnya mengklaim bahwa semua keberhasilan itu adalah murni hasil
keringat dan kehebatannya sendiri. Dari sinilah mentalitas angkuh itu muncul,
merasa bahwa semua pencapaian hidupnya wajib disembah dan diapresiasi oleh
orang lain. Pada titik yang sangat menyedihkan ini, fitrah kesucian hati
manusia telah terkotori oleh jelaga kesombongan yang amat pekat, hingga menutup
seluruh fungsi kepekaan spiritual yang seharusnya bekerja dengan jernih.
Maka dari itu, pasanglah mata batin dan berhati-hatilah
dengan kebaikan orang-orang di sekitar kita. Sebab, dalam realitas yang
telanjang, sangat bisa dipastikan bahwa manusia itu memiliki kecenderungan
bawaan untuk menyisipkan pamrih dan ketidaktulusan di balik uluran tangannya.
Kesadaran serta kewaspadaan penuh terhadap pelbagai jebakan utang budi harus
Anda baca, cermati, dan perhatikan dengan sangat saksama. Namun, jangan salah
kaprah. Ini bukan berarti Anda harus menjadi manusia dingin yang menolak mentah-mentah
kebaikan dari orang yang berniat baik.
Kuncinya adalah ketajaman dalam membaca pola, menyelami sisi
psikologis, serta melacak rekam jejak dari si pemberi bantuan tersebut. Anda
harus jeli menakar, apakah tindakan menolongnya itu murni, atau justru
bermutasi menjadi serupa rentenir dan pemeras yang sedang mengintai mangsa.
Maka, khusus bagi bantuan berskala besar yang kiranya tidak sanggup Anda bayar
kembali, segera hidupkan mode kehati-hatian tertinggi di dalam diri Anda.
Sebaliknya, jika Anda memiliki kemampuan untuk membalasnya, maka tunaikanlah
balasan itu dengan secepatnya. Langkah taktis ini penting agar niat terselubung
mereka untuk menagih utang budi di kemudian hari tidak lagi memiliki celah
kekuasaan ketika Anda dituntut.
Melihat betapa dinamis dan penuh intriknya cara kita dalam
menerima kebaikan manusia, hal ini sejatinya sedang menyingkap sebuah lembar
realitas: bahwa kebaikan yang sejati itu hanyalah kebaikan yang dilandasi oleh
ketulusan yang mutlak. Dan di panggung alam semesta ini, satu-satunya tempat
untuk menerima kebaikan dari sang pemberi ketulusan yang sejati tak lain
hanyalah Allah SWT dan para utusan-Nya.
Maka dari itu, dapat dipastikan secara mutlak pula bahwa
seluruh anugerah yang dialirkan ke dalam ritme perjalanan hidup kita merupakan
suatu kemutlakan yang wajib disyukuri tanpa tapi. Oleh karena itu, dawamkanlah,
lakukan, dan amalkanlah kesyukuran itu setiap waktu kepada Zat yang Maha Tulus
tersebut. Sebab, dengan memperbanyak syukur kepada-Nya, itulah jalan utama yang
menjadi sebab mengapa kita akan menjadi makhluk yang jauh lebih dicintai
oleh-Nya dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya.
Maka dari itu, jalan paling bersahaja untuk belajar
bersyukur, di samping setia menegakkan seluruh perintah-Nya, adalah dengan
melatih jiwa untuk merasa cukup atas apa pun yang dijatahkan oleh-Nya. Kalau
rezeki sarapan yang tersedia di atas meja pagi ini hanyalah sepiring nasi putih
ditemani sebutir telur rebus, maka nikmatilah ia dengan khusyuk. Ketika
mengunyahnya, bersihkan pikiran dari membayangkan kemewahan menu sarapan yang
disantap oleh pesohor seperti Raffi Ahmad atau Atta Halilintar. Sebab kalau imajinasi
Anda terbang ke mana-mana, keindahan tersembunyi dari sepiring nasi dan telur
rebus itu tidak akan pernah bisa Anda hayati, sementara kemewahan yang Anda
khayalkan pun tetap berada di luar jangkauan tangan Anda.
Oleh karena itu, apabila di jalanan kita berpapasan dengan
wajah-wajah yang memancarkan rona kebahagiaan sejati, tanpa peduli apakah ia
seorang konglomerat atau buruh miskin, dan tidak urus ia berada di strata
sosial sebelah mana, ketahuilah bahwa manusia itu adalah sang pemenang yang
berhasil bersyukur atas anugerah Tuhannya. Sebab, kesediaan untuk memperbanyak
syukur akan berbanding lurus dengan hadirnya ketenangan batin. Dan dari rahim
ketenangan itulah akan lahir segala mata air kebaikan dan kemaslahatan nyata,
baik yang menyangkut dimensi psikologis, antropologis, sosial, kebudayaan,
spiritual, kesehatan fisik, dan bidang kehidupan lainnya. Wallahu a'lam.

Komentar
Posting Komentar