Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Opini

Menulis dan Bercerita

Pada dasarnya menulis adalah bercerita. Tidak jauh berbeda dengan berbicara. Hanya saja, diksi-diksi yang dikeluarkan itu tidak verbal. Tidak berkontak langsung dengan si pendengar. Karena itu ada kesemuan interaksi di dalam tulisan karena bercerita dengan cara menulis. Namun, karena menulis, suatu cerita jadi abadi. Selagi tulisan itu masih ada, masih bisa dibaca. Bercerita dengan menulis itu sebenarnya tidak buruk. ada orang-orang yang terbata-bata lidahnya ketika mengucap, lantas ia tutupi keterbataannya itu dengan menulis. Sehingga isi atau point yang ingin disampaikannya itu bisa digambarkan dengan jelas. Menulis itu tetap penting, bahkan dalam pengertian islam. Karena al-Qur’an bisa saja lenyap dari dunia ini, bila tidak ditulis. Hadits-hadits yang jumlahnya jutaan, selain dihafal juga ditulis oleh ulama-ulama. Mereka memahami, bahwa hafalan-hafalan yang berada di dalam fikirannya tentu harus diabadikan dalam bentuk tulisan, sehingga bisa digunakan bagi masyarakat awam...

Merenungi

Petuah orang tua sering kita dengar, janganlah menyakiti hati insan, karena itu sulit disembuhkan. Bila tubuh tergambar luka, tentulah ia dapat diobati. Namun, bila hati tersayat luka, ke mana obat hendak dicari. Jadilah intisari petuah itu sebagai rambu-rambu yang fundamental, dalam hidup kita sebagai manusia, yang hiruk pikuk dalam bertegur sapa. Nyatalah manusia itu, nihil dari kesempurnaan. Tentulah ia ada silap dan salah. Adakala itu menjadi niat dan maksud, adakala pula benar-benar tak disengaja. Jika benar ia bermaksud menyakiti hati orang lain, tentulah itu perbuatan jahat. Karena silapnya itu adalah satu pilihan yang sadar. Dan jika ia tersilap dengan tiada sadar, apatah ia jadi perbuatan jahat?. Maka jawaban dari itu, tetap jahatlah ia. Meski jahatnya itu karena tiada ia sadari. Karena itu, Allah beri potensi berfikir dan merenung. Allah beri pula waktu lapang dan sunyi. Di mana ketika waktu itu datang, hendaklah kita suka merenung. Apa yang telah kita lakukan?. Ap...

Silam

RADAR

Radar, masyarakat awam memahaminya sebagai sebuah sinyal untuk melacak suatu benda dari kejauhan. Banyak ditemui di film-film, contoh visualnya biasa dapat dilihat di kapal laut atau kapal selam. Juga di pesawat. Apalagi sekarang sudah ada pesawat mata-mata. Anti radar. Wah. Bingung, gimana cara buatnya? Tapi, radar yang jadi judul di artikel ini bukan seperti contoh yang disebutkan di atas. Melainkan radar yang ada di manusia. Tidak pakai mesin besi pemancar sinyal, penangkap sinyal atau monitor untuk memantaunya. Radar ini lebih bersifat abstrak. Sesuatu yang ada di dalam “sini”. Bingung kan? Sama . Hehe. Radar yang mesinnya abstrak ini jika dipanjangkan kalimatnya menjadi, “kontak batin”. Yaitu sebuah fenomena yang bisa jadi pernah dirasakan semua manusia. Biasanya itu terjalin karena ada ikatan sedarah. Seperti orang tua dengan anak atau sebaliknya, seseorang dengan saudaranya atau kerabatnya. Jelasnya, si A akan merasakan apa yang dirasakan si B dalam waktu yang bersa...

Kata-Kata dan Perasaan

Banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dalam hidup ini. Apalagi bagi tipikal orang yang cenderung pendiam atau tidak mahir mengungkapkan maksud perasaannya dengan sempurna, sehingga maksudnya sulit untuk dapat diterima dengan utuh oleh si pendengar. Itu lumrah terjadi bagi sebagian orang, memang tidak semuanya. Kita tidak bisa menyangkal, bahwa kata-kata yang keluar dari komponen alat bicara kita adalah ekspresi dari perasaan yang menetap di dalam sanubari. Bahwa kata-kata seorang guru yang keluar ketika mengajarkan suatu bidang ilmu kepada anak didiknya merupakan ekspresi perasaannya yang berhasrat untuk mengajari. Bahwa seorang ibu yang memarahi anaknya karena berbuat salah, merupakan ekspresi kekesalan hatinya karena perbuatan anaknya tersebut. Bahwa seorang nelayan bernyanyi sambil memancing ikan di atas perahu, karena hatinya sedang cerah, secerah langit laut, tak diganggu angin riuh nan kencang. Sekilas, kita bisa menilai, bahwa perasaan itu bisa dengan serta merta dapat d...

Islam Mulai Ditakuti Umatnya?

Beberapa waktu yang lalu, publik kembali digegerkan dengan pemberitaan pencoretan bendera yang dilakukan oleh nurul fahmi, dengan tulisan kalimat tauhid, lailahaillah dengan arti “tiada tuhan selain Allah”. Miris memang jika kita memandang kejadian ini. kenapa tidak, sebelum itu, ada beberapa kejadian pencoretan bendera yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, namun tidak begitu digubris oleh kepolisian. Katakanlah kasus yang serupa dengan tema yang sama, pada unjuk rasa pendukung ahok yang menulis dilambang bendera merah putih “kami minta ahok dibebaskan”. Fenomena ini tentunya membuat publik bertanya-tanya, “mengapa isu pelanggaran pencoretan lambang bendera baru bergema setelah adanya tulisan kalimat tauhid di lambang bendera?”. Sedangkan sebelumnya, aksi serupa juga pernah dilakukan di beberapa selebrasi publik dan bahkan ditonton oleh presiden sendiri. Berkaca dari hal tersebut, maka sudah barang pasti dapat disimpulkan, bahwa Islam mulai ditakuti oleh penganutnya sendi...

Lupa itu Penyakit?

Lupa itu penyakit?               Banyangkan, bagaimana jika kondisi ini menimpa kita. “saya sedang berburu dengan waktu untuk mengikuti kelas kuliah. Tempatnya jauh dari rumah/kediaman saya. Suatu ketika saya ingin berangkat, ibu saya menyuruh untuk mengisi bensin sepeda motor terlebih dahulu, karena jika saya yang melakukan, itu akan lebih cepat dan memudahkan mereka.               Seteleh saya kembali dari pompa bensin, saya langsung mengangkat tas saya dan berangkat kampus dengan jarak 6 jam perjalanan, dan kunci sepeda motor itu masih di saku celana saya. Dan ketika setengah perjalanan, saya mulai sadar bahwa saya telah lupa mengembalikan kunci tersebut kepada ibu saya.               Ironis. Hal yang sederhana saja bisa terlupakan dengan mudah. Karena ke-lupa-an itu, kita malah...
Kenapa kita masih gemar di dalam kelam? Semua ilusi adalah semu, semua yang berjisim adalah nyata. Berbaktilah semua hamba yang tidak lekang dahinya akan sujud syukur, ketika memandang bahwa semua hal yang terjadi bermuara dari Sang Pencipta. Namun, bukan berarti kita hanya duduk dan menerima apa yang diberikannya. Ada usaha yang harus di upayakan. Jangan sekedar. Lakukan sampai batas tenaga dan akal. Sejauh mana tenaga kita habis dan Sejauh mana akal kita mampu memuat berbagai persepsi dalam satu hari. Satu hari adalah umur yang berkah. Esok hari mungking sudah tiada. Pencapaian hanyalah sebuah ilusi dan usaha adalah kenyataan yang benar. Apa yang kita capai terkadang tak kunjung sampai. Sementara yang tidak di upayakan datang dengan sendirinya. Sehingga kita sering bertanya “Fenomena apa ini,?”, “kenapa seperti ini?” dan sebagainya. Maka ketika akal tidak bekerja atas fenomena yang kita alami itu, nyatalah kita dalam kelam. Kebingungan. Tidak tau di mana kita sedang b...

Filosofi Perjalanan

Sudah lama, bersama mikrolet ala Bireuen. Namanya BE, konon merupakan singkatan dari "Bireuen Express". Memang beberapa diantaranya terasa express, namun sebagian besar tidak. Supirnya harus mengatur jalur lintas dan menjaga jarak antar mikrolet untuk menyamaratakan jumlah penumpang yang mereka angkut. Hampir semua supir yang kulihat menggunakan HP, untuk berkomunikasi dengan supir lain. Biasanya menanyakan jumlah calon penumpang yang ada di depannya, bisa juga mendeteksi keberadaan keberadaan mikrolet "musuh bebuyutannya (supir lainnya)-". Entah apa percakapannya, aku tidak tau. tapi bila diperhatikan dari jauh, para supir terlihat seperti anak muda yang sedang menelpon kekasihnya. Seperti terbius dengan lalu lintas cinta. Paras-paras gagah dan cantik banyak terlihat di sana. Mahasiswa dan mahasiswi, mereka bersemangat untuk pergi kuliah. beberapa diantaranya saling mencuri pandang dan bertukaran nomor hanphone. Juga pernah kulihat kisah cinta di Mikrolet itu...