Langsung ke konten utama

Tepis Gundah

Aku tidak ingin disamakan seperti mereka yang mudah berpaling,
Aku memang mengagumi yang satu dan mencintai yang lain,
Tapi, kebodohan itu bukan aku yang mau,
Tidak mau dan ingin kusengaja, ,
Masih dapat kubayangkan rasa sakitnya,
bila seseorang beranjak dari hati,
bilapun ia ingin atau terpaksa,
sama saja,
sama-sama meninggalkan bekas luka, ,

Kala itu aku bimbang,
Tak bisa membedakan, apakah itu engkau atau dia, ,
Terus menerus dalam keadaan seperti itu,
Hingga aku jenuh dengan penat yang membuta,
Melalui keadaan sukar, dan melupakan diriku untuk sesaat, ,

Karenanya, kupastikan yang satu dari dua,
Dengan menganggap bahwa ini menjadi langkah untuk menghentikan kebimbangan ini. .
Lalu aku menjalaninya Dengan sebuming kesakitan,
Terus terseret dan tergerus dibawa pilu. .

Dalam suasana itu,
Aku tetap memperhatikanmu, tapi tidak seperti memperhatikannya, ,
Aku mengetahui kesedihannya,
Tapi tak mengetahui kesedihanmu, ,
Dan sekarang, aku merasa picik. .

Kesedihanku bukan karena aku tak bisa menjalin hubungan dengannya,
Melainkan mengapa aku terus terlarut dalam perasaan itu, ,
Meski ia acuh, dan terkadang tidak peduli . .

Dulu, aku pernah mengutarakan perasaan itu, kepadanya , ,
Meski aku tau, bahwa hatinya telah dimiliki. .
Itu karena aku terlanjur terbawa arus,
Di bawah hati yang terus memberontak, ,

Aku ingin lepas,
Hingga aku mengadu kepada Tuhan dengan perasaan malu,
Malu karena tak sepantasnya kuadukan itu, ,
Tapi, aku tetap melakukannya, ,
Jauh sebelum aku menulis artikel ini. .

Shalat isyaku selalu kubawa ke tengah malam,
Agar aku selalu terbeban untuk  melakukannya, ,
Saat-saat di mana aku merasa sunyi,
Dan merasakan tekanan ini dengan sebenar-benarnya , ,

Aku menunggu lama, tentang jawaban pintaku, ,
Kukira, segala doaku adalah sia-sia . .
Namun, baru kusadari bahwa Allah membalikkan duka ini dengan sangat perlahan , ,
Semakin nestapa itu menjauh,
Semakin ingin kutoreh cerita ini di lembar apapun, ,
Padahal saat aku tergerus dulu,
Aku terlalu malas untuk membahasnya,
Meski Cuma berteman dengan sebuah pena dan secarik kertas. .

Hingga perasaan ini nyaris memudar sempurna,
Ratapan malamku kian menjadi puji syukur, ,
Karena “Allah, Engkau telah kabulkan doaku.”
Dan bersamaan dengan itu, ,
Kepalaku melukiskan kembali gambar dirimu,
Dengan rasa bersalah yang besar, ,
Menghujam, hingga aku berpikir mengapa kesedihan ini tidak kunjung berakhir , ,

Walaupun begitu,
Aku tak ingin mendekatkan diriku kepadamu, waktu itu . .
Karena merasa, betapa brengseknya aku, tak menghadapkan diriku kepadamu,
Saat aku memutuskan kepastian dulu, ,
Aku terus begitu, , menjalaninya, ,
Dengan membohongi diri sendiri . .

Kehancuran dulu membuatku asik untuk mengadu di malam, ,
Ku coba netralkan hati dan pikiran, ,
Dengan doaku yang tidak memihak,
Hanya memohon sedikit kebahagian di hari-hari ku yang berwarna kusam,
Untuk memastikan, bahwa pinta-pintaku tidak terdorong dengan rasa bersalah ini, ,

Lalu, Semakin waktu berlalu , ,
Gambar-gambarmu yang di ingatan Semakin banyak muncul,
Seakan Ia menampakkanmu untuk permintaan maafku yang selalu kutunda, ,
Kutunda agar  kesedihan berikutnya tak lagi datang, ,
Karena itu sangkaku, ,

Namun, suatu malam. .
Saat bulan rendah di sebelah barat tampak dari jendela kamar. .
Cahayanya masuk, menerangi sedikit sajadahku . .
Dan saat itu, rasa bersalahku memuncak . .
Tak bisa ku bendung karena terlalu deras, ,
Terus menangis hingga mataku kebas, ,

Dua pesan singkatku, tentang harapan dan permintaan maafku kukirimkan, ,
Tanpa berpikir, bagaimana tanggapanmu tentang itu nantinya, ,
Tak peduli lagi dengan pertimbangan-pertimbangan seperti malam-malam lalu, ,
Aku menangis hingga lelah, ,
Sampai tertidur, dengan warna kosong,
Tanpa mimpi, ,

Keesokan harinya, ,
Engkau tanyai maksud pesan singkatku tadi malam, ,
Dan aku tak tahu harus menjawabnya bagaimana, ,
Hanya diam dan mengalihkan pembicaraan, ,

Wahai engkau,
Sebenarnya dalam rasa bersalahku,
Terselip cinta yang kian mengembang dari kekaguman, ,
Tapi, aku terus membohongi diri sendiri, ,
Karena aku malu kepada hatiku,
Seakan rasa ini ada setelah rasaku kepadanya menghilang, ,
Meskipun aku tahu hakikatnya tidak demikian, ,
Aku juga takut menceritakannya kepadamu,
Takut bila engkau tidak mengerti sepenuhnya tentang apa yang aku pahami, ,

Tapi, sedikit dari cerita itu telah kupaparkan, ,
Entah bagaimana tanggapan dan perasaanmu yang sebenarnya, ,
Setidaknya, kejujuran itu membawa ketenangan, walau segumpal. .

Rasa bersalahku tak mau pergi. .
Pula aku menyadari bahwa tidak ada manusia yang selalu benar(*
Keduanya terus berpapasan, ,

Dan aku harus menunggu lagi, ,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhkah kita dengan al-Qur'an?

Al-Quran, merupakan satu-satunya teks yang dapat diyakini keabsahannya. Banyak pelaku yang terlibat sehingga keontetikannya terjaga hingga sekarang. Hal ini juga merupakan kemukjizatan Rasulullah Muhammad saw, bahwa al-Qur’an menjadi risalah yang universal dan komprehensif dalam membimbing muslimin untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia di berbagai dimensi alam. Hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum muslim, bahwa al-Qur’an adalah kitab yang tiada syadz padanya. Namun, dalam aplikasinya, kebanyakan dari kita tidak berhasrat untuk menggali setiap pesan yang tertuang dalam al-Qur’an. Padahal,  sudah banyak pihak-pihak ilmuan yang takjub akan kebenaran al-Qur’an. Tidak sedikit juga yang hanya menjadikannya sebagai landasan teori untuk menemukan berbagai rahasia alam tanpa mengimaninya. Mengkritisi tubuh sendiri, bahwa sebahagian muslim tidak berhasrat untuk menelaah al-Qur’an secara utuh. Tidak sedikit dari kita yang memandang bahwa, al-Qur’an hanya sekedar bagian dari rukun...

Semangatnya

aku, bagian tim sosialisasi pengenalan kampus , , Institut Agama Islam Almuslim Aceh . . kami turun hampir ke seluruh sekolah menengah atas/ madrasah aliyah di kabupaten bireuen . . kemarin,  arah kami ke sebuah sekolah yang jauh dari jalan raya , , ku dengar dari orang-orang, nama lain dari sekolah itu adalah "sekolah matahari terbit" . . karena sekolah yang paling awal merasakan teriknya matahari pagi adalah sekolah itu . . ( katanya ) aku turun dari mobil tim,  melihat alam sekolah dengan cahaya kontras . . langkah ku gagah karena suasananya seakan memerah . . ku luruskan dasiku, dan kami menuju ruang kepala sekolah untuk mohon izin untuk mensosialisasikan kampus kami . . perbincangan singkat terjadi, bersama kepala sekolah "matahari terbit" . . selebihnya kegiatan kami di izinkan untuk di jalankan, dan kami mulai membagi tugas, untuk presentasi di tiga ruang yang berbeda . . aku, bersama wakil rektor 1. . masuk keruang IPS berkat anjuran salah...

Menanti "Bersama Ribuan Senja"

    Sepotong tubuh tersibak kaku, mematung di tepi pantai. Wajahnya kaku, tegang. Menahan nafas pilu berkali-kali. Pohon matanya memerah, bekas elusan sapu tangan. Airmata itu terus jatuh, membanjiri pipi. Dadanya sesak. Menanggung beban rindu yang mendalam. Menunggu seseorang yang entah kapan akan kembali. Lewat dermaga ini. Sudah ratusan petang berlalu menemani penantian panjangnya. Menjadi saksi wajah frustasi itu. Namun karin tak berputus asa. Yakin bahwa laki-laki itu pasti akan tiba, menyambut tangannya, meruntuhkan segunung rindu yang menjulang tinggi. Meskipun karin tak tau persis, kapan laki-laki itu akan benar-benar kembali. Alun-alun senja beberapa saat lagi akan berakhir. Karin menunduk, meletakkan jeda dari penantian yang mungkin masih begitu panjang. Jemarinya gugup, membuka lembaran buku di tangannya. Terselip banyak surat-surat dalam lembaran buku itu. “kembalilah.” Rintih hatinya. ***** “Kau liha...