Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Islam Mulai Ditakuti Umatnya?

Beberapa waktu yang lalu, publik kembali digegerkan dengan pemberitaan pencoretan bendera yang dilakukan oleh nurul fahmi, dengan tulisan kalimat tauhid, lailahaillah dengan arti “tiada tuhan selain Allah”. Miris memang jika kita memandang kejadian ini. kenapa tidak, sebelum itu, ada beberapa kejadian pencoretan bendera yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu, namun tidak begitu digubris oleh kepolisian. Katakanlah kasus yang serupa dengan tema yang sama, pada unjuk rasa pendukung ahok yang menulis dilambang bendera merah putih “kami minta ahok dibebaskan”. Fenomena ini tentunya membuat publik bertanya-tanya, “mengapa isu pelanggaran pencoretan lambang bendera baru bergema setelah adanya tulisan kalimat tauhid di lambang bendera?”. Sedangkan sebelumnya, aksi serupa juga pernah dilakukan di beberapa selebrasi publik dan bahkan ditonton oleh presiden sendiri. Berkaca dari hal tersebut, maka sudah barang pasti dapat disimpulkan, bahwa Islam mulai ditakuti oleh penganutnya sendi...

Hadith and Orientalists

Inevitable, that the words of the Prophet can be channeled properly up to the present times. All narration are a scientific process by conducting rigorous research and selectively to produce good results. Although in the process, encountered a fake hadith transmission activity, but it can be overcome thanks to the critics of hadith by investigating ambiguity and irregularities contained in the hadith element. This occurs because of the interests of certain parties to achieve their goals. By relying on words of the prophet Muhammad as a supporting their argument, then their opinion or doctrine can be accepted easily by the Muslim community at that time. An extraordinary appreciation must be given to the critics of hadith, who have filtered it with a particular approach so that the validity of a hadith is acceptable. But, unlike the case with critics saying that the hadith is an artificial the scholars of Islam and not from Prophet Muhammad SAW. it is a big lie. The critics...

10 Argumen Mengapa Jin Masuk Surga Layaknya Manusia

Berpijak dari nash al-Qur’an yang ramai diketahui oleh segenap muslim mengenai eksistensi manusia dan jin sebagai hamba yang wajib tunduk dan patuh, menyembah Allah swt. Oleh karena itu, sebagaimana manusia, jin juga mendapat perintah dari Allah swt. mereka juga tercakup dalam syariat para nabi dan kejahatan mereka pula layak mendapat hukuman. Ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw. diutus kepada mereka sebagaimana diutus kepada manusia. Semua itu tidak diperselisihkan oleh ulama. Namun, perbedaan pendapat muncul dari pertanyaan, apakah jin akan masuk surga?. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jin akan masuk surga atau pun neraka. Ada juga yang menyatakan bahwa pahala jin yang muslim hanyalah sebagai alat untuk menjauhkannya kepada neraka dan tidak akan masuk surga. Hal ini dikarenakan bahwa surga hanya diperuntukkan untuk Adam a.s. ini adalah pendapat imam abu hanifa rahimahullah wajhah. Para ulama yang menyatakan bahwa jin muslim akan masuk surga berpijak dari 10 argumen y...

Ibnu Qayyim: Mengapa Adam a.s Diturunkan ke Bumi?

Ibnu Qayyim, dengan nama lengkap Abu 'Abdullah Syamsuddin Muhammad Abu Bakr bin Ayyub bin Sa'd bin Huraiz bin Makk Zainuddin az-Zur'i ad-Dimasyqi dan dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Dia tumbuh dewasa dalam suasana ilmiah yang kondusif. Ayahnya adalah kepala sekolah al-Jauziyah di Dimasyq (Damaskus) selama beberapa tahun. Sang ayah digelari Qayyim al-Jauziyah. Sebab itu pula sang anak dikenal di kalangan ulama dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Manusia pertama, Nabi Adam a.s ditempatkan oleh Allah di dalam syurga. Di sana, ia mendapatkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikamatan yang ada di dunia. Sebagian canda, -mungkin juga menyesali,- sempat terdengar dari segelintir orang, “seandainya saja, Adam a.s tidak memakan buah khuldi, mungkin kita tidak akan hidup susah di dunia ini.” Untuk menanggapi pemikiran yang kelayaban tersebut, ada baiknya kita melihat pandangan Ibnu Q...

Jauhkah kita dengan al-Qur'an?

Al-Quran, merupakan satu-satunya teks yang dapat diyakini keabsahannya. Banyak pelaku yang terlibat sehingga keontetikannya terjaga hingga sekarang. Hal ini juga merupakan kemukjizatan Rasulullah Muhammad saw, bahwa al-Qur’an menjadi risalah yang universal dan komprehensif dalam membimbing muslimin untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia di berbagai dimensi alam. Hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum muslim, bahwa al-Qur’an adalah kitab yang tiada syadz padanya. Namun, dalam aplikasinya, kebanyakan dari kita tidak berhasrat untuk menggali setiap pesan yang tertuang dalam al-Qur’an. Padahal,  sudah banyak pihak-pihak ilmuan yang takjub akan kebenaran al-Qur’an. Tidak sedikit juga yang hanya menjadikannya sebagai landasan teori untuk menemukan berbagai rahasia alam tanpa mengimaninya. Mengkritisi tubuh sendiri, bahwa sebahagian muslim tidak berhasrat untuk menelaah al-Qur’an secara utuh. Tidak sedikit dari kita yang memandang bahwa, al-Qur’an hanya sekedar bagian dari rukun...

Kisah Orang Terakhir yang Masuk Surga

Dari Hadist Shahih Muslim, diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda tentang kisah ini. Rasulullah saw bersabda: Orang yang terakhir masuk surga adalah seseorang yang berjalan di atas shirat al-mustaqim sekali, sedang ia berada di atas jahannam (neraka). dia akan jatuh sekali, dan dia akan terbakar oleh neraka sekali. Kemudian, ia berhasil menyeberang dan diselamatkan dari jurang neraka, ia berkata, “Terpujilah Dia yang telah menyelamatkanku darimu (neraka). Allah Swt. telah memberiku sesuatu yang tak pernah diberikan kepada orang lain selain aku.” Jadi ia menganggap bahwa dirinya sebagai orang yang paling beruntung. Setelah ia melewati shirat al-mustaqim, Allah Swt. menumbuhkan sebuah pohon untuknya. Jadi, ia memohon kepada Allah Swt. agar mendekatkannya kepada pohon tersebut, sehingga ia bisa berada dalam naungannya, ia bisa minum dengan airnya. Lalu, Allah menempatkannya di bawah pohon tersebut. Kemudian, Allah Swt. menumbuhkan po...

Pandangan Muhammad Iqbal tentang Wahdatul Wujud

Iqbal meramu postulat, “ Saya berbuat, karena itu saya ada (I act, therefore I exist), membedakannya dari pemikir Muslim terdahulu yang banyak terjebak kenikmatan asketisme .               Dalam memandang wahdatul wujud , Iqbal mengistilahkannya dengan “kesadaran mistis”. Kesadaran mistis/ wahdatul wujud dalam pengertian Muhammad Iqbal adalah sebagai salah satu usaha yang dilakukan manusia dengan menafikan kehendak pribadi ketika mengidentifikasi dirinya dengan Tuhan. Hal ini menyebabkan, para praktisi aliran tasawuf ini merasakan bahwa segala unsur material adalah fana. Iqbal berargumen bahwa sikap menafikan diri bukanlah jalan untuk mencapai kesempurnaan diri.               Ia memandang, bahwa pusat dan landasan organisasi manusia adalah ego yang dimaknai sebagai seluruh cakupan pemikiran dan kesadaran tenang kehidupan. Ia senantiasa bergerak di...

Asbabun Nuzul dalam Kacamata Syahrur

              Modern dan kontemporer, sering diartikan sama oleh khalayak umum, padahal, ada partikulasi di dalam keduanya. Bila ditinjau dari sudut pemikiran Arab pasca kebangkitan, biasanya terdapat istilah pemikir modern dan kontemporer. Perlu diketahui, bahwa modern adalah kini yang sudah lewat, namun masih bersifat modern. Sementara kontemporer kekinian atau kini. Dengan demikian, dapat diartikan bahwa kontemporer sudah tentu modern, namun modern tidak bisa dikatakan kontemporer.               Syahrur, ia adalah salah seorang pemikir Arab kontemporer. berkebangsaan Syiria. Syahrur agaknya salah seorang pemikir yang menolak turats (tradisi). Ia memahami bahwa untuk mendapatkan pesan ketuhanan, warisan tradisi semestinya tidak boleh dipercaya kebenarannya. Umat Islam harus melihat permasalahan tersebut sendiri tanpa meminjam kacamata orang-orang t...

Hermeneutika: Sebuah Pendekatan Interpretasi Terhadap Teks Kuno

Hermeneutika, didefinisikan sebagai seni dan ilmu dalam menafsirkan teks-teks yang mempunyai otoritas, khususnya teks-teks suci seperti al-Qur’an. Ini merupakan sebuah pendekatan yang dapat dikatakan baru dalam dunia penafsiran al-Qur’an. Dalam sejarahnya, hermeneutika adalah pendekatan-pendekatan yang dicetus oleh barat dan kemudian diadopsi oleh pemikir-pemikir modernis islam dalam menggali nilai aktual dan faktual yang terdapat dalam al-Qur’an. Pada hakikatnya, hermeneutika sebagai sebuah metode penafsiran, bukan hanya terdiri dari satu bentuk, melainkan beberapa model dan varian. Adapun vasiasinya sebagai berikut. Pertama , hermeneutika ojektif, yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh klasik seperti Friedick Schleiermacher (1768-1834), Wilhelm Dilthey (1813-1911) dan Emilio Betti (1890-1968). Cara pendekatan model ini adalah memahami teks sebagaimana yang dipahami pengarangnya, sebab apa yang disebut teks, menurut Friedick Schleiermacher, adalah ungkapan jiwa pengarangnya. Da...