Langsung ke konten utama

Ibnu Qayyim: Mengapa Adam a.s Diturunkan ke Bumi?


Ibnu Qayyim, dengan nama lengkap Abu 'Abdullah Syamsuddin Muhammad Abu Bakr bin Ayyub bin Sa'd bin Huraiz bin Makk Zainuddin az-Zur'i ad-Dimasyqi dan dikenal dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
Dia dilahirkan pada tanggal 7 Shafar tahun 691 H. Dia tumbuh dewasa dalam suasana ilmiah yang kondusif. Ayahnya adalah kepala sekolah al-Jauziyah di Dimasyq (Damaskus) selama beberapa tahun. Sang ayah digelari Qayyim al-Jauziyah. Sebab itu pula sang anak dikenal di kalangan ulama dengan nama Ibnu Qayyim al-Jauziyah.
Manusia pertama, Nabi Adam a.s ditempatkan oleh Allah di dalam syurga. Di sana, ia mendapatkan berbagai kenikmatan yang tidak dapat dibandingkan dengan kenikamatan yang ada di dunia. Sebagian canda, -mungkin juga menyesali,- sempat terdengar dari segelintir orang, “seandainya saja, Adam a.s tidak memakan buah khuldi, mungkin kita tidak akan hidup susah di dunia ini.”
Untuk menanggapi pemikiran yang kelayaban tersebut, ada baiknya kita melihat pandangan Ibnu Qayyim, setidaknya adalah 5 argumen, mengapa Adam a.s diturunkan ke muka bumi, yaitu:
Pertama, Allah menurunkan manusia ke bumi, di mana keimanan kepada yang ghaib terwujud. Keimanan kepada yang ghaib adalah keimanan yang hakiki dan bermanfaat, berbeda dengan keimanan hanya kepada yang tampak. Setiap muslim percaya bahwa pada hari kiamat hanya keimanannya yang bermanfaat. Seandainya mereka tetap ditempatkan di dalam syurga, maka mereka tidak akan mendapatkan tingkat keimanan kepada yang ghaib tersebut.
Kedua, Allah menciptakan Adam a.s dari segenggam materi yang diambil dari semua zat di bumi. Bumi yang mengandung zat baik, buruk, lapang keras, mulia dan jahat. Allah mengetahui bahwa di punggung adam a.s ada yang tidak layak tinggal bersamanya di surga sebagai alam yang penuh dengan kenikmatan. Karena itu, Allah menurunkannya ke bumi, di mana kebaikan dan keburukan dikeluarkan dari tulang sulbi-nya. Maka, Allah akan menjadikan orang-orang baik sebagai teman adam di surga kelak, dan begitu pun sebaliknya.
Ketiga, Allah ingin mengambil dari keturunan Adam a.s yang Dia bela, Dia kasihi dan Dia cintai dan mereka juga mencintai-Nya. Kecintaan mereka kepada-Nya merupakan puncak kehormatan dan kemulian. Maka, derajat yang mulia ini tidak mungkin dapat terealisasi tanpa adanya keridhaan dari-Nya dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, Allah menurunkan manusia ke bumi, di mana tempat tersebut merupakan tempat menerima perintah dan larangan yang harus mereka taati. Tentu hal tersebut adalah hal yang sulit, di mana manusia harus menghadapi berbagai rintangan dalam menggapai keridhaan-Nya.
Keempat, Kesempurnaan ta’abbud manusia tidak dapat terealisasi dalam syurga, sebagai tempat kenikmatan abadi. Surga bukanlah tempat untuk mendapatkan cobaan, ujian dan beban. Oleh karenanya, kesempurnaan ibadah hanya dapat tergambar di bumi, sebagai tempat di mana manusia dituntut untuk beribadah kepadanya, sementara cobaan, ujian dan beban melanda dirinya.
Kelima, Allah memindahkan Adam a.s ke bumi dengan tujuan sebagai pewaris syurga abadi. Dengan sifat Ilmu-Nya, sungguh Allah mengetahui bahwa manusia itu lemah. Terkadang manusia lebih memilih sesuatu yang dapat ia nikmati dengan segera namun tidak bernilai, dari pada sesuatu yang bernilai tinggi namun datang tertunda. Manusia diciptakan dengan tabiat tergesa-gesa serta sifat yang terburu-buru. Inilah yang menjadi instrumen penyeleksi keturunan Adam a.s mana yang dapat memposisikan dirinya dalam maqam yang sebaik-baiknya.
Penempatan Adam a.s. dan keturunannya di bumi, di mana terdapat sebab-sebab yang mengantar kepada kedudukan tertinggi, merupakan bagian dari kesempurnaan nikmat-Nya kepada mereka. Allah Swt. tidak mengeluarkan Adam a.s dari dalam surga melainkan untuk mengembalikannya kembali dalam kondisi yang sempurna.
Akhirnya, sebagai penutup artikel singkat ini, mari kita bercermin terhadap pernyataan beliau, “Barangsiapa menyayangi Anda karena sesuatu, maka dia akan berpaling di saat sesuatu tersebut hilang. Jadi orang yang menyembah Allah SWT hanya di kala bahagia, sejahtera, dan sehat, berbeda dengan orang yang tetap menyembah Allah SWT di kala susah dan bahagia, menderita dan sejahtera, serta di kala sakit dan sehat. Waallahu ‘alam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Jauhkah kita dengan al-Qur'an?

Al-Quran, merupakan satu-satunya teks yang dapat diyakini keabsahannya. Banyak pelaku yang terlibat sehingga keontetikannya terjaga hingga sekarang. Hal ini juga merupakan kemukjizatan Rasulullah Muhammad saw, bahwa al-Qur’an menjadi risalah yang universal dan komprehensif dalam membimbing muslimin untuk mendapatkan kehidupan yang bahagia di berbagai dimensi alam. Hal ini disadari sepenuhnya oleh kaum muslim, bahwa al-Qur’an adalah kitab yang tiada syadz padanya. Namun, dalam aplikasinya, kebanyakan dari kita tidak berhasrat untuk menggali setiap pesan yang tertuang dalam al-Qur’an. Padahal,  sudah banyak pihak-pihak ilmuan yang takjub akan kebenaran al-Qur’an. Tidak sedikit juga yang hanya menjadikannya sebagai landasan teori untuk menemukan berbagai rahasia alam tanpa mengimaninya. Mengkritisi tubuh sendiri, bahwa sebahagian muslim tidak berhasrat untuk menelaah al-Qur’an secara utuh. Tidak sedikit dari kita yang memandang bahwa, al-Qur’an hanya sekedar bagian dari rukun...

Semangatnya

aku, bagian tim sosialisasi pengenalan kampus , , Institut Agama Islam Almuslim Aceh . . kami turun hampir ke seluruh sekolah menengah atas/ madrasah aliyah di kabupaten bireuen . . kemarin,  arah kami ke sebuah sekolah yang jauh dari jalan raya , , ku dengar dari orang-orang, nama lain dari sekolah itu adalah "sekolah matahari terbit" . . karena sekolah yang paling awal merasakan teriknya matahari pagi adalah sekolah itu . . ( katanya ) aku turun dari mobil tim,  melihat alam sekolah dengan cahaya kontras . . langkah ku gagah karena suasananya seakan memerah . . ku luruskan dasiku, dan kami menuju ruang kepala sekolah untuk mohon izin untuk mensosialisasikan kampus kami . . perbincangan singkat terjadi, bersama kepala sekolah "matahari terbit" . . selebihnya kegiatan kami di izinkan untuk di jalankan, dan kami mulai membagi tugas, untuk presentasi di tiga ruang yang berbeda . . aku, bersama wakil rektor 1. . masuk keruang IPS berkat anjuran salah...

Menanti "Bersama Ribuan Senja"

    Sepotong tubuh tersibak kaku, mematung di tepi pantai. Wajahnya kaku, tegang. Menahan nafas pilu berkali-kali. Pohon matanya memerah, bekas elusan sapu tangan. Airmata itu terus jatuh, membanjiri pipi. Dadanya sesak. Menanggung beban rindu yang mendalam. Menunggu seseorang yang entah kapan akan kembali. Lewat dermaga ini. Sudah ratusan petang berlalu menemani penantian panjangnya. Menjadi saksi wajah frustasi itu. Namun karin tak berputus asa. Yakin bahwa laki-laki itu pasti akan tiba, menyambut tangannya, meruntuhkan segunung rindu yang menjulang tinggi. Meskipun karin tak tau persis, kapan laki-laki itu akan benar-benar kembali. Alun-alun senja beberapa saat lagi akan berakhir. Karin menunduk, meletakkan jeda dari penantian yang mungkin masih begitu panjang. Jemarinya gugup, membuka lembaran buku di tangannya. Terselip banyak surat-surat dalam lembaran buku itu. “kembalilah.” Rintih hatinya. ***** “Kau liha...