Langsung ke konten utama

Postingan

Tepis Gundah

Aku tidak ingin disamakan seperti mereka yang mudah berpaling, Aku memang mengagumi yang satu dan mencintai yang lain, Tapi, kebodohan itu bukan aku yang mau, Tidak mau dan ingin kusengaja, , Masih dapat kubayangkan rasa sakitnya, bila seseorang beranjak dari hati, bilapun ia ingin atau terpaksa, sama saja, sama-sama meninggalkan bekas luka, , Kala itu aku bimbang, Tak bisa membedakan, apakah itu engkau atau dia, , Terus menerus dalam keadaan seperti itu, Hingga aku jenuh dengan penat yang membuta, Melalui keadaan sukar, dan melupakan diriku untuk sesaat, , Karenanya, kupastikan yang satu dari dua, Dengan menganggap bahwa ini menjadi langkah untuk menghentikan kebimbangan ini. . Lalu aku menjalaninya Dengan sebuming kesakitan, Terus terseret dan tergerus dibawa pilu. . Dalam suasana itu, Aku tetap memperhatikanmu, tapi tidak seperti memperhatikannya, , Aku mengetahui kesedihannya, Tapi tak mengetahui kesedihanmu, , Dan sekarang, aku m...

Hitam

Hitam lalu, , Ia, misteri . . Menafikan tebakan benar, Lalu menertawakannya di ruang gelap, Dan akhirnya, , Tersenyum sinis, seperti hantu, Di balik lipatan pintu . . Ia, pemisah diri, Pencinta darah merah . . Menyapunya dengan lembut dan memercik, Setelah melukai diri dan membantai yang lain . . Tawanya tak pernah bersuara, Cuma cekikan kecil, di suasana sunyi, , Meredam kucir, untuk membelai belati, , Menoreh ubun-ubun, Lalu puas, , Dan, , Hitam baru datang, , Ia, alas dasar redup, , Penyembunyi kepahitan, , Jika ia cahaya, maka itu adalah kelam, , Mata takkan bisa menangkap bias terang, Karena ia hanya patut untuk dirasakan . . Ia, penenang bertuah, Atas kontraksi sangkaan hancur, Dan pikiran pemberontak, , Sifatnya dalam dan dingin, Tak berbatas, bahkan semakin dalam, Perekah yang menciut, Penenang kebimbangan, , Ia, juga pembalik, Menjadi jalan yang membawa cinta, Kepada angin, Awan kapas, Hujan,...

Berbeda Untuk Bersama

Cinta, meniadakan dan mengadakanmu . .  Dengannya kamu akan berharap. . Betapa indahnya bila kita mampu memilikinya . . Segala perbedaan akan menjadi jalan keindahannya, , Bahkan, Sekalipun perasaan tulusmu tak diterima, , Itu akan menyedihkan untuk beberapa saat, Namun kemudian, Keindahan hikmahnya akan menghiasi jalan ceritamu , , Bermimpilah, Meski itu tidak mungkin, Karena kekuasaan bukan terletak di tanganmu, Melainkan Dia yang Maha segalanya . .

Senyum

Bermimpi dan berimajinasi, lalu terperangkap di ruang abstrak yang kontras, , di dalamnya, ada seribu warna-warni yang tidak bisa dilukiskan, , pudar menerang, , kupu-kupu yang terbang lemah, lalu hinggap di ujung bangku yang melengkung 2 lilitan, , lalu serbuk ilalang menjadi kunang-kunang, cerah mengabut, , tunas rumputnya menyala, lalu hujan turun . . titik air menjadi kaca, membola . . ada merpati putih, berekor kipas, tepi sayapnya bercorak emas. . lalu, sayapnya mengepak, dan angin menguat, , menerbangkan spora putih, teracak, , lalu mereka membentuk sebatang tubuh, , tepat, di depanku . . aku yang duduk dibangku kupu2, menengadah bingung. . karena ia yang berdiri lembut di paras angin, tersenyum, , "

Laman

di latihan kita . . sudah banyak ku dengar kekesalan kalian . . memarahiku dengan protes keras . . sampai salah seorang diantara kalian, , menyiram air ke arahku, sampai bajuku basah . . . aku menabuh rapa'i dan menyanyikan syairnya untuk mengiringi gerakan kalian, , kalian mengeluh dan mengatakan : " musiknya gak bagus bang !!! "  ku jawab : " rapa'inya gak bagus dek !! " tak ingin ku kecewakan kalian, lalu ku tabuh rapa'i itu dengan sekeras dan secepat mungkin, hingga tanganku kebas dan suaraku parau , , dan bahuku sakit saat malam tiba , , aku menunggu kedatangan kalian sejak jam 8.00 pagi, , sambil menyapu auditorium dan menggelar tikar untuk latihan, tapi latihan kita baru dimulai pada jam 10.00 . . lalu, aku memperhatikan wajah kalian yang tidak mengetahui, bahwa hampir setiap minggu, aku berangkat dari rumah hanya dengan uang Rp. 10.000,- aku meminta kalian untuk serius dalam latihan, , tapi kalian terus bercanda dengan t...

Nyanyian Pagi Hari

aku, anak seorang ibu penjual jajanan di salah satu sekolah di pemkot lhokseumawe , , setiap jumat pagi, pagi-pagi sekali, aku harus pergi ke pasar membeli barang dagangan ibuku yang tidak terlalu banyak . . sepeda motorku ku bawa pelan, karena tidak sanggup menahan dinginnya uapan embun yang masih mengambang, , apalagi 2 hari ini hujan selalu turun . . sampai harus ku tahan gigilan tubuh . . ini. . di jumat pagi 4 april, di simpang 4 kota krung geukuh . . ada pemandangan yang berbeda, padahal mungkin itu selalu kulihat setiap pekan . . . aku menyelip sebuah sepeda tua berkeranjang, , setiurnya banyak bintik karat, , rodanya berputar lambat karena kayuhannya yang pelan .. dan laju sepeda motorku kulambatkan pula . . itu seorang ibu berseragam guru, , sosoknya sudah tampak tua untuk mengayuh sepeda . . ku anggap ia lebih layak diantar oleh anaknya yang mungkin sudah besar . . keheranan ini, membuatku berpikir bahwa : "mungkin sepeda itu punya sejarah panjang...

Semangatnya

aku, bagian tim sosialisasi pengenalan kampus , , Institut Agama Islam Almuslim Aceh . . kami turun hampir ke seluruh sekolah menengah atas/ madrasah aliyah di kabupaten bireuen . . kemarin,  arah kami ke sebuah sekolah yang jauh dari jalan raya , , ku dengar dari orang-orang, nama lain dari sekolah itu adalah "sekolah matahari terbit" . . karena sekolah yang paling awal merasakan teriknya matahari pagi adalah sekolah itu . . ( katanya ) aku turun dari mobil tim,  melihat alam sekolah dengan cahaya kontras . . langkah ku gagah karena suasananya seakan memerah . . ku luruskan dasiku, dan kami menuju ruang kepala sekolah untuk mohon izin untuk mensosialisasikan kampus kami . . perbincangan singkat terjadi, bersama kepala sekolah "matahari terbit" . . selebihnya kegiatan kami di izinkan untuk di jalankan, dan kami mulai membagi tugas, untuk presentasi di tiga ruang yang berbeda . . aku, bersama wakil rektor 1. . masuk keruang IPS berkat anjuran salah...